reksa dana konvensional

Mahasiswa zaman sekarang harus tau istilah investasi, salah satunya adalah investasi reksa dana. Reksa dana adalah salah satu pilihan investasi yang bisa digunakan oleh mahasiswa karena kamu sebagai investor pemula, bisa memulai investasi ini dari nominal yang kecil.

Reksa dana sendiri memiliki arti, yaitu penghimpunan dana yang nantinya akan dikelola oleh seorang manajer investasi untuk ditanamkan ke berbagai produk investasi, misalnya saham, obligasi, atau pasar uang. Sekarang ini, di Indonesia udah banyak ditawarkan reksa dana konvensional dan syariah. Keduanya tentu memiliki perbedaan.

Apa aja yang membedakan investasi reksa dana konvensional dan syariah?
  1. Cara pengelolaan

Reksa dana konvensional bisa diinvestasikan dalam semua efek seperti surat-surat berharga (saham dan obligasi) sampai deposito, dan disesuaikan dengan batasan investasi yang diterbitkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Total utang dan perusahaan yang terlibat dalam investasi reksa dana di sini bukan sebuah syarat penting.

Sementara itu, pengelolaaan produk reksa dana syariah terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). Daftar ini nantinya akan diumumkan oleh OJK berdasarkan ketentuan syariah. Reksa dana ini nggak akan berinvestasi pada perusahaan yang dianggap melarang prinsip syariah, misalnya perusahaan minuman beralkohol, rokok, sampai judi. Nilai utang pun sangat diperhitungkan, yaitu total utang harus lebih kecil dari nilai aset.

  1. Diawasi badan pengelola yang berbeda

Kalau yang konvensional, sepenuhnya ada dalam pengawasan OJK. Nantinya, akan disesuaikan dengan mekanisme pasar dan faktor-faktor lainnya yang sesuai dengan kondisi perekonomian.

Sedangkan yang syariah, ada dalam pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dewan ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengelolaan reksa dana sesuai dengan prinsip syariah. Tapi, untuk regulasi dari investasi reksa dana tetap diserahkan kepada OJK sebagai regulator yang menyiapkan segala macam bentuk investasi di Indonesia.

reksa dana konvensional

  1. Proses “pembersihan” berdasarkan pendapatan

Secara konvensional nggak ada yang namanya istilah “pembersihan” pendapatan yang halal dan nggak halal. Yang penting, asal semua sesuai dengan ketentuan investasi yang dibuat OJK, manajer investasi pun bisa menjual reksa dana.

Sedangkan untuk semua produk reksa dana dengan konsep syariah harus menempatkan proses “pembersihan”. Proses ini merupakan cara untuk memilah apakah sebuah perusahaan memiliki pendapatan yang nggak halal dalam proses bisnisnya.

Dalam reksa dana syariah, hal ini sangat penting, karena kategori pendapatan nggak  halal ini berhubungan dengan riba, yang berarti haram dalam hukum Islam. Pendapatan nggak halal ini nantinya akan disisihkan dair jumlah investasi dan keuntungan halal, kemudian hasilnya akan disumbangkan untuk keperluan amal.

  1. Peran manajer investasi

Tugas dari manajer ivestasi dalam reksa dana adalah bertugas untuk menentukan nilai saham dan untuk membantu mendapatkan kepastian serta legalitas dari reksa dana.

Secara konvensional, seorang manajer investasi nantinya akan menanggung risiko berdasarkan prinsip kerjasama. Sedangkan secara syariah, manajer investasi nggak akan menanggung kerugian. Kalau investasinya dianggap gagal, maka yang menanggung kerugian adalah pemodal atau investor.

  1. Pembagian keuntungan

Perhitungan keuntungan dalam reksa dana konvensional dijalankan dengan cara pembagian keuntungan antara pemodal dengan manajer investasi yang dihitung berdasarkan perkembangan dari suku bunga. Sementara untuk reksa dana dengan sistem syariah, pembagian keuntungan reksa dana dihitung berdasarkan ketentuan-ketentuan syariah Islam dan kesepakatan bersama.

Itulah perbedaan antara reksa dana yang konvensional dengan yang syariah. Yang manapun pilihanmu, kamu perlu memperhatikan 5 langkah yang ada di artikel ini sebelum memulai investasi reksa dana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *