kepemimpinan perempuan

Semua orang bisa jadi pemimpin, termasuk juga perempuan. Tapi, kenapa banyak orang lebih memilih laki-laki sebagai ketua daripada perempuan?

Karena perempuan dianggap lebih sering pakai perasaan dibanding logika. Jadi, kepemimpinan perempuan dianggap lebih melibatkan perasaan dalam pengambilan keputusan. Perempuan juga dianggap kurang tahan banting menghadapi permasalahan di organisasi, sehingga hampang stres.

Padahal nyatanya, ada banyak perempuan yang sukses menjadi pemimpin. Kemampuan perempuan memimpin politik, organisasi, atau sebagai pengusaha udah terbukti di dunia, nggak terkecuali di Indonesia.

Lihat aja sosok Menteri Keuangan kita sekarang, Ibu Sri Mulyani, yang juga pernah menjabat sebagai Direktur World Bank periode Juni 2010 hingga Juli 2016. Pemikiran dan strategi ekonominya membawa perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah berbagai bencana dan tragedi sepanjang tahun 2018. Beliau juga dinobatkan sebagai Finance Minister of the Year 2019 Global and Asia Pacific oleh The Banker.

Selain itu, ada juga Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Banyak yang menganggap beliau kurang mampu menjalankan tugasnya karena beliau hanya lulusan SMP. Tapi, apakah hal itu membuat bu Susi ciut dan mundur? Tentu nggak. Justru beliau nggak ragu menunjukkan kepemimpinannya yang tegas dan berani, bahkan nggak ragu mengambil langkah ekstrim demi menjaga dan melindungi sumber daya laut di Indonesia.

Hebat bukan? Menjadi seorang pemimpin tentu memerlukan leadership skill yang cukup.

Kepemimpinan perempuan nggak akan kalah dengan laki-laki kok. Ingin jadi seperti mereka? Lakukan hal ini:

kepemimpinan perempuan

  1. Manfaatkan sifat-sifat asli perempuan dalam diri kamu

Perempuan punya banyak bakat dan kemampuan yang unik. Misalnya, intuisi yang kuat dan rasa empati yang besar, yang membuat perempuan lebih pandai dalam mengenali masalah dan memahami situasi yang terjadi. Daripada mencoba terlihat seperti laki-laki (sok-sok galak, mendominasi percakapan), manfaatkanlah kelebihan yang kamu punya. Bicaralah saat kamu memang harus bicara, dan dengarkan saat waktunya kamu harus mendengarkan.

  1. Pahami, lakukan, ungkapkan

Perempuan biasanya ingin menyenangkan semua orang, tapi hal ini nggak mungkin kamu lakukan kalau kamu jadi pemimpin. Sadarilah bahwa kewajiban kamu bukanlah membahagiakan orang lain, tapi melakukan apa yang memang perlu kamu lakukan untuk kepentingan bersama. Pahamilah organisasimu, lakukan pekerjaanmu dengan baik, dan ungkapkan opinimu dengan percaya diri. Itulah kuncinya.

  1. Bertindak secara nyata

Talk less, do more. Kamu harus menunjukkan kontribusi yang nyata untuk organisasi, jangan cuma umbar janji dan asal omong. Cari cara agar kamu terlihat memberikan dampak yang signifikan dan membuat keberadaanmu diperhitungkan. Dengan berkontribusi yang nyata, orang jadi lebih percaya dengan pencapaian dan kesungguhan kamu.

  1. Cari mentor (senior) yang suportif

Mentor di sini adalah orang yang kamu anggap sebagai mentor. Misalnya, senior yang pernah menjabat sebagai pemimpin juga, atau yang dipandang punya pengaruh besar untuk organisasi. Dengan memiliki mentor, kamu bisa mengevaluasi diri kamu dari mereka. Kamu bisa bertanya tentang tips kepemimpinan, cara mengatur waktu, mengatasi perbedaan pendapat, dan sebagainya. Kamu pun bisa diberikan kesempatan untuk memimpin suatu proyek, yang tentunya akan membuat reputasimu makin oke kalau berhasil.

Siapa pun bisa jadi seorang pemimpin. Buktikan bahwa kepemimpinan perempuan itu nggak akan kalah dengan laki-laki. Supaya makin terinspirasi dan makin bersemangat, ingatlah kata-kata dari mantan Ibu Negara Amerika Serikat dan aktivis pendidikan, Michelle Obama berikut ini:

Whether you come from a council estate or a country estate, your success will be determined by your own confidence and fortitude.”

Yang intinya, kamu harus percaya diri dan punya mimpi yang tinggi, dari manapun kamu berasal. Dan tentunya, nggak memedulikan gender.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *