mata uang asing

Mengenal mata uang asing menjadi salah satu materi yang disampaikan Student Ambassador (SA) CICIL di Semarang dalam Festival Anak Semarang (FAS) 2018 yang bertempat di Kampung Pelangi, Minggu (22/7). Pada festival ini, SA CICIL Semarang berkesempatan untuk berbagi pengetahuan tentang keuangan dan menabung bersama 120 anak dari Kampung Pelangi dan Tambak Lorok, Semarang.

mata uang asing

FAS 2018 digagas oleh 12 komunitas pendidikan, hobi, serta seni dan budaya di Semarang. Rangkaian acara FAS dibagi menjadi tiga, pertama yaitu kegiatan belajar bermain (KBB) dimana 120 anak dibagi ke dalam 8 kelompok dan harus mengunjungi 8 pos komunitas. Kedua, yaitu kegiatan parenting yang diikuti oleh orangtua anak-anak yang hadir, kemudian yang ketiga adalah launching buku karya anak-anak Kampung Pelangi.

Salah satu SA CICIL yang juga mahasiswi Universitas Diponegoro, Ufi, menjelaskan misi yang dibawa SA CICIL Semarang adalah mengajarkan anak-anak tentang pentingnya konsep belajar berhitung dan mata uang dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkenalkan mata uang asing, yang dilakukan melalui replika uang mainan yang digunakan sebagai media belajar. “Harapannya adalah supaya anak-anak bisa memahami pentingnya mengetahui nilai mata uang dan penggunaannya,” jelasnya.

mata uang asing

Dalam metode pengajarannya, 12 SA yang terlibat membagi kelas menjadi dua yaitu kelas kecil dan kelas besar. Kelas kecil terdiri dari kelas 1 sampai 4, dimana mereka belajar tentang penjumlahan dan pengurangan dengan media replika uang rupiah yang akan mereka pasangkan sesuai dengan nominalnya. Sedangkan untuk kelas besar yang terdiri dari kelas 5 dan 6 adalah pembelajaran keuangan dimana mereka mulai belajar mengenal mata uang asing tepatnya mata uang di negara Asia Tenggara.

Selain itu, Rian, SA CICIL Semarang lainnya, merasakan pengalaman baru mengajar anak-anak. Mahasiswa jurusan Bahasa Perancis Universitas Negeri Semarang ini mengatakan bahwa ternyata mengondisikan anak-anak itu butuh kesabaran yang cukup tinggi. Selain kesabaran, menarik perhatian anak-anak agar tetap fokus kepada apa yang diajarkan juga menjadi pengalaman berbeda dalam hidupnya.

mata uang asing

“Biasanya, saya menghadapi siswa SMP atau SMA yang sudah dewasa, namun menghadapi anak-anak lain lagi ceritanya. Mereka luar biasa jujur. Ketika bosan atau lelah akan langsung bilang tanpa basa-basi,” ujarnya.

Keterlibatan CICIL dalam kegiatan ini merupakan salah satu bentuk corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan di kota Semarang.

mata uang asing

 


 

Ditulis oleh:

Ibda Fikrina Abda,

CICIL Marketing Operation Coordinator Semarang, dan

Ufi Mar’iyatus Syifa,

Pertanian Universitas Diponegoro, angkatan 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *